Home Video NERAKA BUDDHA – Taman Patung Seram, Wisata Wang Saen Suk &...

[Wisata] NERAKA BUDDHA – Taman Patung Seram, Wisata Wang Saen Suk & Reduction Candi Borobudur

Travelgaul video,neraka,buddha,taman,neraka buddha,neraka budha,buddha,budha,Wang Saen Suk Thailand,Wang Saen Suk,candi borobudur,barabudur,relief borobudur,wisata horor,patung neraka,komik neraka,patung seram,Bang Saen,Chonburi,Chon buri,Thailand Hell Horror Park,Bangkok,patung Budha Tertawa,Siddhartha Gautama,Buddha Gautama,wisata neraka,wisata unik,wisata patung,a Thinker Auguste Rodin,Phya Yom,Nai Ngean,Nang Thong,patung,seni patung,seni rupa,preta,inkuisisi,Pancasila,neraka, This Video is apprenticeship barometer. These bath are battery!
Di Unggah PAINTING EXPLORER
Channel PAINTING EXPLORER
Video ID GwnCXu9ltKM

URL link https://www.youtube.com/glance?v=GwnCXu9ltKM

Jangan lupa worship dan juga subscribe video ini untuk mendapatkan notifikasi terbaru dari kami
Setelah kehidupan ini ada apa: https://youtu.become/cE1ExJwOR5g

Informasi hal gaib di dalam al-Quran: https://youtu.become/NyCC8-Q-hXU

NERAKA BUDDHA, TAMAN PATUNG SERAM WANG SAEN SUK

Serem buanget… patung-patung ini ditusuk-tusuk, digodog, digergaji, dan juga berbagai jenis penyiksaan yg lain.

Masuk taman horor ini gratis, tidak bayar, tapi siap-siap tahan napas, kami akan menjelajahi neraka, nereka di dalam peradaban Buddha… kami akan menelusuri taman patung Wang Saen Suk Thailand.

Sebenarnya visualisasi neraka sudah lama dikenal penduduk Nusantara, ada di serta candi-candi Budha. Nanti menjelang akhir video kami akan melihatnya serta.

Di Thailand, negara yg pernah saya hadiri di dalam rangka workshop seni lukis cat air, tidak hanya ada satu taman neraka, tetapi Wang Saen Suk paling populer.

Agak susah mencapai tempat ini Apabila tidak menggunakan Google Maps, mesti melewati perkampungan. Kota Bang Saen, propinsi Chonburi, tempat bersemayam “Thailand Hell Fear Park” atau “Taman Horor Neraka Thailand” ini terletak kira-kira 90 km dari Bangkok.

Baca Juga :  [Wisata] KIAT LUAR RUANGAN DAN DIY UNTUK WISATA || Kiat Musim Panas dan Guidelines Liburan oleh 123 Trot Bask in!

Dari luar lokasi, patung-patung penyiksaan itu belum tampak. Di tempat parkir kami baru bertemu patung Budha Tertawa ukuran besar dengan warna mencolok.

Suasana di parkiran mirip Indonesia. Gerobak kaki lima berdesakan menunggu rezeki, dagangannya digantung pating cranthel tidak rapi. Warung-warung ini langsung berdekatan dengan mobil-mobil terparkir, bedanya, di Indonesia kebanyakan mobil MPV, di Thailand mayoritas keluarga memanfaatkan mobil capture up, lebih besar dan juga ada bak di belakang.

Saatnya masuk ke gerbang Wang Saen Suk.

Ini bukan berarti kami langsung nyemplung ke neraka, tetapi berjumpa dulu kisah Siddhartha Gautama Sang Pendiri Agama Buddha. Semuanya dituturkan lewat patung, lengkap sejak kelahiran hingga mencapai gelar Buddha Gautama.

Siddharta adalah anak Raja Suddhodana. Konon, begitu lahir ia sudah dapat berdiri. di dalam persalinan, ibunya tidak penting berpose layaknya ibu babaran, tetapi Sang Ibu, Ratu Maha Maya, berdiri memegang dahan pohon sala. Pada adegan ini, anatomi bayi Sidddhartha tidak dibuat secara tepat, bukan bentuk bayi tetapi orang dewasa yg pendek.

Episode selanjutnya adalah saat Pangeran Siddhartha diramalkan akan menjadi pertapa, sehingga Raja cemas karena apabila ia menjadi Buddha, tidak ada pewaris tahta kerajaannya. Raja menjaga agar Siddhartha tidak melihat “Empat Kondisi” yg dapat memantiknya menjadi pertapa, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati, dan juga pertapa.

Baca Juga :  [Wisata] Warung Watoe Gadjah Jogja Istimewa Obyek Wisata n Kuliner Baru Yogyakarta #YukDolanJogja

Tetapi, suatu saat ia melihanya serta, dan juga ini menjadi satu diorama tersendiri. Singkat kata ia memutuskan menjadi pertapa, meninggalkan kehidupan duniawi kerajaan. Keputusan ini ia tandai dengan memotong rambut panjangnya.

Side kisah bagian ini tentu panjang kalau diceritakan, nanti malah tidak menjadi melihat neraka.

Patung-patung yg lain ada di kanan kiri jalan, ada serta yg di tengah-tengah. Seluruh bentuk patung di taman ini tidak dibuat dengan akurasi realistik idealistik sebagaimana patung Klasik Yunani Romawi, bukan serta realistik impresionistik seperti patung a Thinker Auguste Rodin, serta bukan patung dekoratif seperti buatan seniman Suku Maya.

Sebelum penyiksaan, ada tempat pembanding amal baik dan juga amal buruk. Orang yg baru mati dirantai dan juga mesti menghadap Raja Kematian Phya Yom. Setelah membandingkan perbuatan baik yg tertulis di piring emas dengan perbuatan buruk yg tercantum di secarik kulit anjing, Phya Yom akan memutuskan apakah orang tadi masuk neraka atau lolos dari siksa.

Ini mengingatkan pada konsep yaumul hisab atau hari penimbangan di dalam Islam, saya pernah membahasnya, setelah mengikuti video ini rekan-rekan saya undang untuk menghadirinya, link ada di deskripsi atau di pojok kanan atas ini.

Baca Juga :  [Wisata] WISATA KELUARGA NAIKNKUDA DELMAN BELI BALON ROBOT || ONDEL ONDEL || RANDI FUN

Kembali ke Wang Saen Suk, patung-patung di sana dibuat dengan semen ala kadarnya. yg penting tampak ada tangan ada kaki. Tidak peduli rincian otot-otonya seperti apa. Visual patung di sana layaknya properti yg akan diarak di karnaval 17-an, buatan siswa sekolah pada umumnya. Tetapi kesederhanaan bentuk inilah yg justru membuat fleksibel saat figur-figur itu akan dideformasi di taman neraka, sebagaimana sebentar lagi kami saksikan.

“Selamat Datang di Neraka,” demikian tulisana sapaan yg tertera saat akan memasuki wilayah neraka.

Di Indonesia, kabar tentang neraka dari agama Buddha kurang populer. Namun, istilah neraka justru dari agama Buddha, atau paling tidak dari bahasa Sansekerta, yaitu naraka. di dalam bahasa Inggris disebut hell, di dalam bahasa Arab naar yg berarti api. Dari bunyinya, mungkin secara etimologis ada hubungan antara naar – naraka – dan juga neraka.

Siksaan terdekat yg ditemui wisatawan wang saen suk adalah wajan penggorengan, bukan untuk menggoreng mendoan tetapi manusia-manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Bahan bakarnya adalah batangan kayu-kayu besar.

IG: @deni.painting

8 COMMENTS